Ilustrasi wanita rimpu sedang membawa air (su'u oi)
Banyak
orang yang mengatakan ketika kita bangun kesiangan rezeki kita dipatok ayam, padahal jika dipikir-pikir mana mungkin ayam
bisa mengambil rezeki manusia karena ayam dan manusia memiliki rezekinya
masing-masing. Kemungkinan lain adalah manusia yang telat bangun rezekinya akan
berkurang meski tidak diambil oleh orang lain.
Rasulullah
SAW juga pernah bersabda : “Bangunlah di pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya
pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan.”
(HR.
Ath-thabrani dan Al Bazzar)
Hal ini
jugalah yang ditekuni oleh masyarakat suku Mbojo (bima) dipagi hari untuk
menjemput rezeki di bawah fajar baik yang laki-laki maupun
perempuan. Masyarakat suku Mbojo (Bima), bagi yang perempuan memiliki cara tersendiri dalam berpakaian jika
hendak mencari rezeki diluar rumah untuk
menutup auratnya mereka menggunakan Rimpu.
Rimpu adalah memakai sarung dengan
melingkarkannya pada kepala dimana yang terlihat hanya wajah pemakainya dengan
menggunakan sarung khas Bima. Kebudayaan rimpu merupakan salah
satu hasil kebudayaan masyarakat suku Mbojo (Bima). Umumnya, kaum perempuan
memakai rimpu untuk menutup auratnya sebagaimana ajaran Islam mengajarkan bahwa
setiap kaum perempuan yang sudah aqil balik harus menutup auratnya di hadapan
orang yang bukan muhrimnya. Rimpu merupakan
sebuah budaya dalam busana pada masyarakat Bima. Budaya "rimpu" telah
hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima ada. Kemudian cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan
kondisi daerah yang bernuansa Islam. Rimpu merupakan rangkaian pakaian yang
menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung. Dalam budaya ini pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan,
sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi”katente” (menggulungkan
sarung di pinggang). Tujuan dari penggunaan Rimpu ini untuk menutup seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk menutup kepala,
satu lembar lagi sebagai pengganti rok.
Ada dua
jenis busana rimpu yang di gunakan oleh perempuan Mbojo, Bagi perempuan yang
belum menikah memakai busana rimpu dimana yang keliatan hanya bagian mata dan telapak
tangannya saja, itu dinamakan Rimpu Mpida. Sedangkan bagi perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga
memakai busana rimpu dimana yang boleh keliatan yaitu bagian wajah ini dinamakan Rimpu Colo. Adanya perbedaan penggunaan Rimpu antara yang masih gadis dengan yang
telah bersuami, sebenarnya secara tidak langsung menjelaskan pada masyarakat
terutama kaum pria tentang status wanita, apakah wanita tersebut sudah
berkeluarga atau masih gadis, itulah yang unik dari budaya rimpu suku mbojo
tersebut.
Budaya Rimpu suku mbojo memiliki nilai yang sangat baik, semoga dengan berkembangnya zaman tidak akan menghilangkan budaya Rimpu sebagai identitas dari masyarakat suku mbojo dalam berbusana yang baik serta bernuansa islami, serta diharapkan budaya Rimpu tidak hanya digunakan saat adanya upacara adat atau perayaan hari budaya Bima akan tetapi Rimpu dapat digunakan sebagai sarana terbaik untuk mengajarkan generasi muda betapa pentingnya menutup aurat.
