OLEH
RIZKA HURRAHMI
Assalamualaikum Wr. Wb. Guys
Pada postingan kali ini saya melanjutkan cerita
saya pada postingan sebelumnya mengenai perjalanan saya mencari naskah
kuno. Sebelumnya saya sudah menceritakan
bagaimana perjalanan saya mencari naskah kuno hingga bertemu dengan Bapak Aseh satu-satunya warga di daerah
Monjok Kota Mataram yang memiliki naskah
kuno. Naskah kuno seperti yang sudah saya singgug pada postingan sebelumnya
adalah naskah atau cerita lama,
cerita-cerita tersebut ditulis oleh para leluhur untuk keturunannya,
sehingga disebut naskah kuno pada zaman sekarang dan isi-isi dari naskah
tersebut juga bisa menambah wawasan kita yang lahir pada masa sekarang. Naskah
kuno yang dipegang oleh Pak Asen ini termaksud naskah kuno yang memiliki nilai
Agama yang kuat ya guys yaitu nilai ajaran Agama Islam.
Senin, 11 November 2019
saya bersiap-siap untuk pergi ke rumah Pak Aseh karena dua hari sebelumnya saya
dan teman saya sudah membuat janji dengan Pak Aseh untuk kembali silaturrahmi ke rumah Pak Aseh, namun
sayang beliau menelpon bahwa dia belum bisa ditemui pada hari ini dikarekan
mati lampu dan beliau mengatakan bisa untuk ditemui pada hari Kamis malam
setelah sholat magrib. Akhirnya hari Kamis, 14 November 2019 saya kembali ke
rumah Pak Aseh setelah sholat Magrib, saya pergi menggunakan sepeda motor
sesampainya di sana saya disambut ramah oleh keluarga Pak Aseh. Istri Pak Aseh
menyiapkan tikar di baruga depan rumahnya untuk saya dan teman saya duduk. Saya
disuruh tunggu sebentar karena Bapak lagi sholat Isya. Pada saat menunggu Pak
Aseh istri dari pak aseh memberikan saya dan teman saya teh dengan ramahnya
lagi, kami merasa tidak enak hati saat itu karena kami tidak membawa apa-apa
untuk keluarga Pak Aseh. Selah beberapa menit datanglah Pak Aseh. Beliau
langsung menghampirin saya dan teman saya. Saya pun memulai pembicaraan dengan mengungkapkan
maksud dan tujuan datang ketempatnya Pak Aseh untuk bersilaturrahmi.
Kami membahasa lanjutan
dari naskah kuno yang diceritakan oleh Pak Aseh pada tempo hari lalu. Pak Aseh menceritakan
bagaimana naskah kuno yang dipegangnya. Naskah kuno yang dipegangnya diberi nama
atau judul “Paras Nabi (Nabi Bercukur)” oleh leluhurnya karena naskah ini
menceritakan bagaimana sejarah Nabi Muhammad SAW. Yang diperintahkan oleh Allah
SWT akan dicukur hingga sampai dicukur
yang ditulis menggunakan daun lontar dengan bahasa askara lama, dalam membuka
atau membaca naskah kuno ini tidak menggunakan ritual yang begitu rumit hanya
dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim
saja karena kata bapak Aseh “kita ini orang islam jangan samperti menyembah
benda (sirik), ini kan hanya benda cuma dalam benda ini ada penunggunyalah agar
kita tidak di madam (diganggu oleh makhluk lain) tapi kalo kita ingat sama
Allah SWT dengan membaca Bismillah
saja bisa menghindari kita dari hal
semacan itu karena kita bukan apa-apa tanpa
Allah SWT”.
Gambar Naskah Paras Nabi.
“Bismillahirrohmanirrohim
Dini kaule hanurun, ceritene Nabi Haparas. Dini wang hangapus ringgite, cerite
handike nabi, pakse langkunging sang kakot moge dohing tulak sari pinatut basa
Jawi, kayat pamulane dangu, mangke kedah ngong wikan, dadi penglipuring
brangti, singamaca moga doh bale hing dunia”
Artinya: “Dengan nama
Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang saya menurunkan, cerita nabi
bercukur. Karena aku mengganti hurufnya, cerita baginda Nabi, maksud para
ahlinya, semoga dijauhkan dari bala, menggunakan bahasa jawa, pada awalnya
hurufnya Arab, karena saya ingin mengetahui, menjadi pelepas lara, barang siapa
yang membaca, mudah-mudahan dijauhkan dari bala bala di dunia”.
Inti dari isi naskah Paras Nabi adalah dulu
malaikat jibril diutus oleh Allah SWT untuk memberitaukan Nabi Muhammad SAW.
akan dicukur pada bulan Ramadan, saat malaikat mendatangi Nabi Muhammad SAW.
Disitukan dikatannya ke Nabi bahwa beliau akan dicukur “silahkan apa yang
diperintahkan oleh Allah dikerjakan”. Bergitulah jawab Nabi SAW. “Hari apa
bulan apa saya siap dicukur? Coba tanyakan”. Malaikat Jibril diperintahkan oleh
Nabi Muhammad dan dia pergi menanyakan pada Allah SWT dan beritaulah bulan apa
hari apa dan tanggal berapa Nabi Muhammad akan
dicukur. “ jadi saya akan dicukur pada hari dan tanggal ini, lalu rambut
saya mau diapakan dan dibawa kemana ? coba tanyakan lagi. “ ujar Nabi Muhammad.
Malaikat Jibril pun menyampaikan pertanyaan Nabi Muhammad. Nanti rambut itu akan diambil oleh masing-masing
bidadari yang memegangnya untuk dijadikannya sebagai ajimat yang dapat
melindunginya, nanti juga para bidadari keluar dari surga akan datang pada saat
Nabi Muhammad dicukur rambutnya dengan membawa daun agar rambut Nabi Muhammad
SAW tidak jatuh ditanah. Setelah mengetahui hal tersebut Nabi pun mengiyakan
untuk dicukur sehingga pada hari dan bulan Nabi dicukur semuanya sudah
berkumpul.
Selain itu juga Pak Aseh sedikit bercerita mengenai
teko yang dia punya, teko ini sudah dipegang turun penurun dari leluhur Pak
Aseh. Teko ini biasa digunakan untuk mengisi air kembang dan digunakan untuk
anak-anak yang mau cukuran (Aqikah).
Gambar teko dan Naskah kuno Paras Nabi
yang masih dibungkus
Setelah lama mendengar
cerita Pak Aseh, tidak terasa waktu sudah untuk hampir larut malam saya dan
teman saya harus segara pulang dikarenakan perjalan kembali ke kos kami lumayan
jauh. Saya pun berpamitan pada Pak Aseh dan bergegas untuk pulang kembali kekos
sepeda motor yang tadi saya gunakan. Dengan rasa syukur karena berkat
silaturrahmi ini saya bisa menambah
wawasan saya.
Nah seperti itulah inti
dari isi naskah kuno Paras Nabi milik Bapak Aseh. Semoga bermanfaat. Sekian dan
terimakasih J
Gambar Saya dan Pak Aseh


