Perjalanan Menggali Peninggalan Sejarah (Naskah Kuno)
Oleh Rizka Hurrahmi
Assalamualaikum Wr. Wb. Guys..
Pada postingan kali ini
saya aka menceritakan perjalanan saya menuju Monjok yang terletak pada kota Mataram. Ada yang tahu
kota Mataram??
Pastilah kalian pada tahu, kan ada di peta Indonesia hehe. Kota Mataram ini terdapat di
provinsi
NTB guys. Provinsi NTB ini memiliki tiga suku yang berbeda budayanya yaitu suku
Sasak,
Samawa
dan Mbojo,
ketiga suku ini biasanya
disingkat
sasambo. Kota Mataram termaksud kota yang penduduknya banyak dari suku sasak.
Suku sasak termaksud suku yang memiliki banyak budaya peninggalan leluhurnya
yang masih disimpan sampai sekarang, baik melalui lisan maupun tulisan.
Hari Selasa 22 Oktober 2019
kemarin saya melakukan perjalanan yang begitu asyik dan tentunya bermanfaat guys.
Pada perjalanan ini
bukanlah perjalanan biasa karena saya melakukan perjalanan untuk bersilaturrahmi
dengan kekuarga Pak Aseh . Pak
Aseh diketahui satu-satunya warga di daerah Monjok yang memiliki naskah kono peninggalan
leluhurnya dari suku Sasak. Saya berangkat dengan
teman saya, teman seperjuangan saya di tanah rantauan ini karena saya sendiri aslinya berasal dari Bima (Mbojo),
namun saya juga memiliki keinginan untuk mengetahui lebih luas lagi tentang
peninggalan leluhur dari suku Sasak. Saya berangkat jam 3.30 setelah sholat asar, menggunakan
motor bergoncengan dengan teman saya. Jarak antara daerah Monjok dengan kos saya lumayan agak jauh. Sebelum langsung ke rumah Pak Aseh yang terdapat di
daerah Monjok saya harus pergi telebih dahulu ke tempat teman saya berkerja
karena berhubung dia yang mengetahui dengan tepat letak kediaman Bapak Aseh di Monjok
tersebut. Sesampainya saya di tempat kerja teman saya, saya masih harus
menunggu beberapa menit sebelum benar-benar berangkat menuju rumah Pak Aseh. Pukul
4.20 saya mulai menuju ke rumah Pak Aseh, rumahnya berada di tengan perkampungan.
Sesampainya
di rumah Bapak Aseh saya disambut oleh saudari dari Pak Aseh, saya disambut
dengan hangat namun sayang sekali sang Bapak sedang mengurus sawahnya diladang
sehingga saya tidak bisa bertemu dengan beliau. Saya memutuskan untuk menunggu
beberapa menit, namun pada akhirnya saya memutuskan untuk pulang terlebih
dahulu dan kembali lagi setelah magrib. Di perjalanan pulang saya sesekali
memperhatikan pemandangan di sekitar jalan. Ternyata banyak pemandangan yang
indah di balik kota Mataram yang panas, di sekitaran pinggir jalan banyak
persawahan yang hijau dan angin sepoi-sepoi pada sore itu menambah sejuknya
susana sore di kota Mataram yang jarang saya temukan di sekitar kos saya.
Gambar pemandangan yang dilihat di pinggir jalan.
Sedang
asyik meperhatikan suasana pinggir jalan, tanpa sengaja saya pun melihat Bapak
Aseh yang sedang membersihkan sawahnya. Saya dan teman saya langsung
menghetikan motor dan menghapirinya. Tanpa merasa keberatan karena saya telah
mengganggu aktivitasnya Pak Aseh malah dengan hangatnya menyambut saya dan
beliau mencuci tangannya terlebih dahulu dan menjak duduk di tepi sawahnya.
Saya dan teman saya pun berbincang dengan beliau dan beliau ketika diajak
ngobrol nyambung dengan kami. Beliau juga sempat bercerita tentang naskah kuno
yang dipegangnya sekarang. Naskah tersebut sudah sangat lama dan dipeganya
turun penurun dari leluhurnya, naksahnya berjudul “Nabi Bercukur”, namun sayang sekali Bapak Aseh tidak bisa
mengartikan naskah tersebut tapi beliau mengetahui bagaimana isi yang
dipaparkan dalam naksah tersebut dari orang tuanya yang sudah meninggal karena
hanya dia lah bisa menerjemahkan naskah tersebut. Dalam naskah tersebut
memaparkan bagaimana ajaran islam yang diterapkan pada masa lampau. Dari sini
kita bisa mengetahui bahwasannya ajaran agama islam pada suku Sasak ini telah
dipegang teguh dari zaman nenek
moyangnya jauh terdahulu. Ternyata banyak sekali cerita pada masa lampau yang
tidak banyak orang ketahui, cerita-cerita tersebut ditulis oleh para leluhur
untuk keturunannya, sehingga disebut naskah kuno pada zaman sekarang dan
isi-isi dari naskah tersebut juga bisa menambah wawasan kita yang lahir pada
masa sekarang.
Hari
sudah menunjukkan waktu yang semakin petang, matahari pun sudah berubah tempat
ke arah barat dan memancarkan warna yang kuning kemerahan. Melihat hal itu, saya
pun berpamitan untuk pulang karena berhubung kos saya agak jauh dan tidak ingin
bertemu dengan magrib di perjalanan. Sebelum pulang saya pun menyempatkan diri
untuk meminta Bapak Aseh berfoto dengan saya sebagai kenang-kenangan pertemuan
singkat kami, dan berharap semoga bisa lekas bertemu kembali. Saya pun pulang
menggunakan motor yang tadi saya pake dengan rasa syukur atas pertemuan singkat
kami tadi yang membuat wawasan pengetahuan saya semakin bertambah.
SEMOGA
BERMANFAAT GUYSJ…
